Diary Silver Angel ~ Part 3

^^~ annyeong, readers.. maybe mulai skarang author post ff-nya pendek”.. soalnya ada reader setia yg gak bz buka ff author dr hp krn kgedean memory.. oh y,, tetep jd reader setia y! hahaa.. happy reading!

.=> cuplikan part 2 <=.

“mwo? Scene kisseu?” pekik Soo in. ia segera menutup mulutnya dan tersenyum malu pada Siwon. ‘omonaaa.. amma, appa, otteohke? Aku tidak hanya ingin menjadi couple-nya di drama. Tapi juga di dunia nyata.’ Ucap Soo in dalam hati. Ia melirik Siwon diam-diam.

.=> part 3 dimulai <=.

“siap? Take 7. Hana, dul, set, ACTION!” teriak sang sutradara. Soo in mulai mengatur ekspresi wajahnya. Di hadapannya, Siwon juga terlihat sedikit gugup. Meski mereka berdua sudah sering dipasangkan dalam drama, namun ini adalah adegan kisseu pertama bagi mereka. Di drama-drama sebelumnya, mereka melakukan adegan kisseu dengan trick kamera. Dan sore ini, mereka sudah menghabiskan waktu banyak untuk take-take pengambilan scene kisseu yang gagal.

“Joon gu, saranghae.” Ucap Soo in. ia berkali-kali meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanya sebait dialog. Tidak lebih dari itu.

“nado saranghae, Hye ra.” Jawab Siwon. Di drama ini, Soo in berperan sebagai Hye ra dan Siwon berperan sebagai Joon gu.

“kisseu jullae.” Bisik Soo in pelan. Perlahan, Siwon mendekatkan wajahnya ke wajah Soo in. semua kru terlihat was-was antara gugup dan semangat. Sedetik, dua detik, tiga detik.. tinggal secenti lagi bibir Siwon dan Soo in… tiba-tiba Soo in tertawa dan menahan bahu Siwon.

“hahaa..”

“wae?” tanya Siwon bingung. Kru lainnya hanya melongo. Sutradara menunduk lemas di kursinya.

“CUT! TAKE 8!”

Yunyun menatap Onew penuh harap saat Onew memeriksa tulisan hangul (Korea) yang ditulisnya. Onew tersenyum. Membuat Yunyun mendengus lega dan balas tersenyum.

“salah semua!” ucap Onew tiba-tiba. Ia melemparkan kertas Yunyun di atas meja. Senyum Yunyun memudar.

“mwo? Mana mungkin salah semua. Aku sudah berusaha menulis dengan baik. Coba kau periksa lagi.”

“anhi. Memang tidak sepenuhnya salah. Tapi kesalahan kecil pun tetap ku anggap fatal.”

“huh! Kenapa sih tulisan hangul dan hanyu berbeda? Menyulitkan saja! huft.. Bisakah kita beralih belajar tulisan hanyu (China)?”

“kalau tulisan hanyu, bukan aku yang mengajarimu, tapi kau yang akan mengajariku. Huft.. apa kau lelah?” tanya Onew khawatir. Yunyun mengangguk semangat.

“baiklah. Bagaimana jika kita jalan-jalan ke taman?”

“tapi belajarnya…”

“masih ada hari esok kan?” Onew menarik tangan Yunyun keluar. Lalu tiba-tiba ia berhenti dan melepaskan syalnya.

“kudengar nanti salju akan turun. Kau pasti akan membutuhkan ini.” ujarnya sambil mengalungkan syal itu di leher Yunyun. Terdengar suara derap sepasang sepatu yang terburu-buru. Ternyata Yesung. Di tangannya terlihat selembar kertas yang mirip seperti tiket bioskop.

“Yesung hyung, wae? sepertinya kau terburu-buru.”

“Onew, ada kabar gembira untukku. Kau bisa menebaknya?”

“emm.. mungkin.. kau sudah berbaikan dengan Eun yoo dan ingin mengajaknya nonton di bioskop. Betul tidak?”

“anhi. Sebenarnya aku mendapat undangan khusus untuk menghadiri premier film terbarunya Moon Geun Young.” Ujar Yesung dengan mata berbinar.

“lalu bagaimana dengan Eun yoo?” protes Yunyun. Mereka bertiga terdiam dan saling melempar tatapan tidak menyenangkan.

“gwenchana. Karna mulai detik ini, aku dan Yesung oppa sudah tidak ada hubungan apa-apa.” Ucap Eun yoo yang tiba-tiba ada di belakang mereka sambil menuruni tangga. Yesung menoleh terkejut. Tapi ia tidak mengatakan apapun untuk mengubah keputusan Eun yoo hingga ia berjalan melewatinya. Yunyun dan Onew menyusul Eun yoo meninggalkan Yesung.

“Eun yoo, kenapa kau begitu gegabah dalam mengambil keputusan?” tanya Yunyun.

“semuanya sudah jelas. Yesung oppa lebih menyukai artis itu daripada yeojachingu-nya sendiri.” Eun yoo segera mengusap airmata yang menetes di pipinya. Ia berlari ke kamarnya. Saat Yunyun ingin masuk, Onew menahannya.

“sebaiknya kita biarkan dia sendiri untuk sementara waktu.” Ucap Onew bijak. Yunyun mengangguk. ‘Onew oppa, terkadang kau mirip seperti Donghae oppa.’ Ujar Yunyun dalam hati. Onew menggandeng tangannya keluar dorm menuju taman.

*Eun yoo’s POV*

Putus? Yah.. putus. Hanya itu jalan terbaik yang ada di otakku. Habis mau bagaimana lagi? Yesung oppa semakin tergila-gila dengan artis itu. Bahkan di saat hubungan kami memburuk, ia masih bisa tersenyum senang hanya karna diundang ke premier film baru Moon Geun Young? Cih! Keterlaluan! Namjachingu macam apa dia? aku terus mengumpat kesal di atas ranjangku. Kupandang sekilas foto-foto kami yang ku pajang di sekeliling kamar. hiks.. airmataku jatuh mengalir deras. Dasar namja pabo! menyebalkan! Teganya kau membuatku menangis. Hiks.. aku membencimu. Aku benar-benar membencimu. Tapi aku juga mencintaimu. Hiks.. kenapa kau hanya diam saat aku memutuskanmu? Apa kau sudah bosan denganku? Apa hubungan kita yang sudah lebih dari setahun ini tidak berarti apa-apa untukmu? Huaaa.. ku banting semua bantal, guling, hingga selimut. Ku sobek beberapa foto Yesung oppa. Dan beberapa diantaranya ku coret-coret terlebih dulu. Tapi rasanya masih belum cukup. Aku sangat kesal! Sangaaat kesal! Rasanya aku ingin membanting tubuh seorang Moon Geun Young di hadapan Kim Jong Woon untuk melampiaskannya. Grrrt.. Yesung! Moon Geun Young! Aku muak dengan kalian berduaaa…!!!

*Eun yoo’s POV end*

Lama sekali Hyuna berkeliling toko-toko kaset di sepanjang pinggir jalan kota Seoul distrik Yeonjung. Ketiga temannya hanya mengikuti sambil terus menggerutu. Tentu saja mereka menggerutu. ini sudah menjelang malam. Dan mereka mulai dari toko kaset pertama tadi adalah ketika hari masih siang. Untuk kesekian kalinya Jinie meminta Kyuhyun menggendongnya.

“kyu oppa, jebal.” Jinie memasang wajah memelas dengan mata berkaca-kaca dan keringat yang menetes turun di dahinya.

“ANHI!” ucap Kyuhyun kesal. Ia sendiri saja kelelahan, mana mungkin mau menambah beban tubuh Jinie. Bahkan meski Jinie berlutut memohon, evil seperti dirinya tidak akan luluh sedikit pun.

“oppa, jebal…”

“Jinie, cukup! Kalau kau tidak kuat, jangan dipaksakan. Lebih baik kau hentikan taksi dan segera pulang bersama Kyu oppa dan Key oppa.” Ujar Hyuna yang masih mengamati rak kaset.

“Hyun ah! Percuma saja kau mengitari seluruh toko kaset di Seoul. Hasilnya akan tetap sama. Yaitu capek! Kenapa tidak besok saja kita cari lagi?” Key mulai tidak sabar. Hyuna menoleh sengit.

“sudah kubilang, lebih baik kalian pulang!”

“memangnya kaset itu untuk apa?” tanya Kyuhyun penasaran.

“untuk Soo in. dan aku harus memberikan kaset itu padanya sebelum ia tidur malam ini. sudah lah. Palli! Panggil taksi dan kalian pulang duluan!”

“lalu kau bagaimana?” bentak Key.

“jangan pedulikan aku!” balas Hyuna.

“tapi aku sahabatmu!” Key tak mau kalah. kini semua mata di toko kaset itu tertuju pada mereka. Jinie membungkukkan badannya beberapa derajat dan meminta maaf pada pengunjung lainnya atas keributan itu.

“sudah sana pulang.” Hyuna menyeret kerah mantel Kyuhyun dan Key keluar toko. Jinie mengikutinya dari belakang.

“Hyuna, mian. Kami pulang duluan ya. Hubungi aku jika terjadi sesuatu!” ucap Jinie. Kyuhyun memberhentikan sebuah taksi biru. Hyuna berbalik kembali ke toko. Dengan malas, ia kembali mengamati rak-rak kaset yang lain. 1 jam, 2 jam, 3 jam…

“hoaaam..” Hyuna menguap pelan. Matanya sudah sangat berat dan kepalanya mulai oleng. Ketika ia berjalan, tubuhnya sedikit kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Untungnya ia hanya menyenggol beberapa kaset.

“eh, mian, akan kurapikan kembali.” Ucap Hyuna pada penjaga toko sambil membenahi letak kaset-kaset itu.

“mian, eonni. Toko ini akan segera tutup.”

“mwo? Tapi aku belum menemukan kaset yang kucari.” Keluh Hyuna pelan. Ia tampak kecewa dan putus asa. Tiba-tiba ada yang melambaikan kaset drama bergambar Soo in dan Siwon di depan wajahnya. Ia pun menoleh.

“Key?”

“ne. setelah cukup lama mencari di toko kaset yang lain, akhirnya aku menemukan kaset ini. mungkin kaset ini yang dimaksud Soo in.”

“kau tidak pulang dengan yang lainnya?”

“emm.. anhi. Sudah jangan mengajakku bertengkar lagi. kita harus segera pulang. Besok pagi aku ada show.” Key menarik tangan Hyuna menuju kasir. Ternyata salah satu kasir tersebut adalah seorang Locket. Tentu saja saat bertemu Key, ia meminta Key foto dengannya.

“omo! oppa, aku fans beratmu!” seru yeoja yang menjadi salah satu kasir. Hyuna menatapnya dengan jijik.

“fans ‘berat’? kau kan tidak ‘gemuk’!” celetuk Hyuna. yeoja itu menoleh padanya.

“siapa kau?” tanyanya menyelidik.

“aku Hyuna.” jawab Hyuna tersenyum sambil menjulurkan tangannya untuk bersalaman. Tapi yeoja itu mengacuhkannya. Membuat senyum Hyuna memudar dan ia segera menarik kembali tangannya dengan gusar.

“aku tidak bertanya ‘siapa namamu’, tapi aku bertanya ‘siapa kamu’?”

“apa bedanya?” Hyuna tak mau kalah. Bila dipikir-pikir, sifat jelek Hyuna dan Key hampir sama, bukan?

“ehm.. Hyuna adalah sahabatku.” Cela Key sebelum yeoja itu kembali memancing emosi Hyuna.

“ne. sahabat lama yang amat sangat akrab.” Tambah Hyuna sambil tersenyum pamer. Ia melingkarkan tangan kanannya di bahu Key. Yeoja tadi mengerutkan kedua alisnya dan mengerucutkan bibirnya. Key hanya memutar bola matanya dengan kesal dan melepaskan rangkulan Hyuna.

“aku tidak peduli.” Ucap yeoja itu keras kepala. Suasana kaku sejenak. Key melirik Hyuna. tatapan Hyuna yang dingin dan datar seolah-olah memberi tahu Key jika ia tidak segera memecah kekakuan ini, mungkin Hyuna tidak akan bersabar lagi dan langsung menelan yeoja itu hidup-hidup.

“tanda tangan saja ya?” tawar Key. Yeoja itu memasang tampang sedih. Akhirnya Key bersedia foto bersama yeoja itu, tapi saat kamera mulai menyala, ia menarik Hyuna kesampingnya.

“pasang aegyo!” bisik Key. Tapi Hyuna tak mengubah ekspresi datarnya.

“aiiish.. Hasil fotonya jelek, oppa. Kita foto sekali lagi y? tapi hanya berdua.” Rengek yeoja itu lagi. Hyuna segera membayar kaset dan melangkah keluar. Key terpaksa menuruti permintaan yeoja itu lalu berlari menyusul Hyuna.

“Hyun ah! tunggu! Kenapa kau marah?”

“aku tidak marah. Lagipula untuk apa aku marah?”

“lalu kau kenapa?”

“aku tidak suka dengan yeoja tadi. Cara dia menatapmu, merengek padamu, minta ini dan itu, MENJIJIKKAN!” jawab Hyuna keras. Untung saja saat itu jalan sudah sangat sepi. Key menarik tangan Hyuna untuk membuatnya menghentikan langkahnya.

“apa kamu cemburu?” tanyanya pelan. Sebenarnya ia takut Hyuna akan menghajarnya karna telah berani melontarkan pertanyaan itu. Ia pernah hampir patah tulang saat mengajak Hyuna berdansa di pesta dansa 2 tahun lalu. Hyuna memang mudah untuk mendekati namja, tapi tak mudah bagi Hyuna untuk didekati oleh namja.

“mwo?” pekik Hyuna. Key menahan napas sejenak. berusaha mengulang pertanyaannya lagi.

“apa kamu cemburu?”

“apa kamu gila?”

“mwo?”

“apa kamu gila menanyakan hal menggelikan seperti itu? Hah? Pabo! mana mungkin aku cemburu.” Hyuna menepis tangan Key dan tertawa. Key tersenyum pahit pada dirinya sendiri. Benar. Bukankah mereka hanya sahabat? TIIIN…!!! TIIIN…!!! Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil di belakang mereka.

“Hyuna, Key, mau pulang denganku?” seru Henry dari dalam mobil.

“oppa, kau datang di saat yang tepat.” Hyuna tersenyum manis dan melangkah ke kursi depan. Key mengikuti di kursi belakang.

..sementara itu di dorm SMEnt..

“annyeong, Teuk oppa!” sapa Jinie sambil membungkukkan kepalanya. Sedangkan Kyuhyun hanya menoleh sekilas dengan cuek. Mereka berpapasan saat Jinie hendak kembali ke dorm setelah belajar bersama Minho.

“yak! Kyu, mana sopan santunmu?” tegur Teukie. Lalu perhatiannya beralih pada Jinie. “annyeong, Jinie. Wah, wah, wah. Sepertinya aku tahu apa yang membuat wajahmu merona bahagia hari ini. hahaa..” Teukie tertawa sambil menunjuk buku yang dipegang Jinie. Di sampulnya tertulis : Choi Minho. Jinie menunduk malu. Wajahnya memerah.

“gomawo, oppa. Ini semua berkat bantuanmu. Jika bukan karna kamu, mungkin Minho oppa tidak akan pernah mengenalku.”

“anhiyo. Kau tidak perlu berlebihan begitu. Aku hanya sedikit mempermudah. Selebihnya tergantung usahamu.” Ujar Teukie sambil mengusap lembut kepala Jinie. Tapi rona bahagia Jinie hilang seketika saat ia melihat Minho merangkul seorang yeoja di lift. Teukie ikut menoleh. Dan ia langsung mengkhawatirkan Jinie.

“emm.. itu Yuri. Mereka.. emm.. mereka memang sudah berteman lama.”

“mereka sangat dekat y?” mata Jinie berkaca-kaca.

“ne. eh, anhi. Maksudku mereka memang sangat dekat sebagai teman.”

“sepertinya aku tidak boleh terlalu berharap.” Gumam Jinie sedih. Bayangan Minho dan Yuri tlah menghilang.

“mwo?”

“aku ingin cepat tidur, oppa. Selamat malam! Sampai jumpa besok.” Jinie melangkah pelan sambil menunduk. Teukie hanya memandangnya iba.

Eiiitz!!! Sbelum lompat k part 4, RCL part ini dlu y.. jadilah readers yg baik! Author benci silent reader! *jenggut rambut wookpa* kkk~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s