Diary Silver Angel ~ Part 4

^^~ annyeong, readers.. Sebenernya author pngen bnget kejar tayang smua ff author.. tp krn tugas sekolah bnyak, author cm bz pasrah nyelesaiin 1 ff ini dlu.. baru beralih k ff ‘Disney’, ‘horor’, dan sekuel” lainnya.. well, happy reading!

.=> part 4 dimulai <=.

..sesampainya Henry, Hyuna, dan Key di dorm, Kyuhyun, Siwon, Soo in dan Yunyun tengah menunggu mereka sambil menonton film yang tadi dibeli Kyuhyun. Begitu melihat Hyuna, Soo in tersenyum penuh kemenangan karna ia yakin Hyuna menyerah.

“otteohke? Berhasil menemukan kaset yang kuminta?” tanya Soo in angkuh. Hyuna melambaikan kaset yang tadi ditunjuk Key dengan bangga. Soo in mengerutkan dahinya.

“itu bukan kaset drama terbaru ku!”

“mwo? Tapi… tadi… Key…” Hyuna melirik Key dengan dengan sudut matanya. Key segera mengalihkan wajahnya dan bersiul-siul kecil seolah-olah tidak mendengar pembicaraan mereka.

“jadi kau meminta bantuan Key?” cemooh Soo in.

“anhi! Aku tidak meminta bantuannya. Ia sendiri yang membantuku dengan sukarela. Dan satu lagi, kau harus memanggilnya ‘Key oppa’. Aratchi?”

“kau saja tidak menyebutnya ‘oppa’.”

“itu pengecualian untukku karna aku sahabatnya. Lagipula aku sudah bersusah payah mencari dan hanya menemukan kaset ini. kau lihat kakiku! Ini akibat tantangan yang kau berikan dalam satu malam.” Hyuna melepas sepatu highels-nya dan memperlihatkan telapak kakinya yang memar.

“bukankah itu luka karna kamu lari tanpa alas kaki tadi pagi?” celetuk Siwon. Hyuna melirik dingin ke arah Siwon yang membuatnya langsung menunduk.

“a.. anhi.. eh, luka yang tadi pagi tidak separah ini.” dengan gugup, Hyuna kembali memakai sepatunya. Tiba-tiba Soo in tertawa.

“hahaa.. kau hebat, Hyun ah! kau berusaha keras untuk mencari kaset drama yang sebenarnya syutingnya pun belum selesai.”

“mwo?” Hyuna tampak terkejut.

“aku hanya ingin bertaruh dengan Yunyun dan Siwon oppa kalau aku berhasil membuatmu marah.”

“mwo?” kali ini Key yang terkejut. Henry menatap nanar pada Yunyun. Tiba-tiba Hyuna ‘menyumpal’ mulut Soo in dengan kaset hingga ia menghentikkan tawanya. Lalu Hyuna beranjak ke lift.

“taruhan kalian sama sekali tidak lucu.” Ucap Henry marah. Ia menyusul Hyuna ke lift. Key yang juga ingin menghampiri Hyuna, mengurungkan niatnya begitu melihat Henry yang langsung memeluk Hyuna di dalam lift sebelum pintu lift menutup.

..beberapa hari kemudian..

“annyeong, chingudeul semua!” seru seorang yeoja bersuara nyaring. Ia melepas headset-nya dan meraih roti panggang di atas meja. Keempat yeoja lainnya hanya saling menukar pandangan penasaran. Mereka adalah Yunyun, Soo in, Eun yoo dan Jinie.

“mwo? kenapa melihatku seperti itu? Apa ada yang salah?” tanya Hyuna sambil tersenyum lebar. Sepertinya ia tidak benar-benar bertanya. Karna rona bahagia di wajahnya tampak tak mempedulikan 4 pasang mata penasaran itu.

“Hyun ah! sebenarnya aku sudah berusaha menekan rasa ingin tahu ku. Tapi… emm… sebenarnya apa yang membuatmu berubah akhir-akhir ini?” Jinie memberanikan diri untuk membuka mulutnya. Hyuna langsung memaksa menelan rotinya dan meminum susu coklat untuk membantu menelannya.

“kenapa tidak sejak kemarin-kemarin kau menanyakan hal ini. emm.. sebaiknya aku cerita darimana y?”

“dari malam itu!” seru Soo in semangat.

“oke! Dengarkan baik-baik y! malam itu, setelah Henry oppa mengejarku ke lift….

*flashback*

“Hyuna, sorry. Yunyun memang keterlaluan.” Bisik Henry sambil memeluk Hyuna. tiba-tiba Hyuna teringat dengan ucapan Sooman yang menyuruhnya mendekati Henry.

“seandainya dia bukan adikmu, aku pasti akan sangat tersinggung atas ulahnya.” Gumam Hyuna pelan.

“no problem if you really angry with my sister. I can understand.”

“but, I like her brother. I can’t angry because her brother.” Pancing Hyuna. Henry melepaskan pelukannya hingga Hyuna dapat melihat wajah tampannya dengan sangat jelas.

“what?”

“ne, oppa. Aku… aku… menyukaimu.” Hyuna berusaha terlihat gugup untuk lebih meyakinkan Henry.

“emm.. what do you think about me, oppa? Do you like me too?”

“me? Ah, of course. Eh, actually… I like you since first time we meet in China… long time ago.” Jawab Henry malu. Wajahnya memerah. Hyuna tersenyum. Perlahan, Henry menundukkan wajahnya ke arah wajah Hyuna. senyum Hyuna menghilang cepat. Ia menahan bahu Henry dan menekan tombol untuk membuka pintu lift.

“sampai jumpa besok, oppa.” Hyuna berlari ke dorm-nya. Sementara Henry hanya menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

*flashback end*

Hyuna berhenti bercerita. Matanya menerawang ke langit-langit ruang makan. ‘huft.. tentu saja aku menolak berciuman dengan Henry oppa. Wookie oppa saja tidak pernah menciumku. Meskipun aku mendekati mereka karna pak tua, tapi jika disuruh memilih, aku pasti akan memilih Wookie oppa yang mendapatkan first kiss-ku. Bukan karna aku mencintai Wookie oppa. Aku hanya menyukai dan mengaguminya. Aku bahkan bukan hanya tidak pernah berciuman. Tapi juga tidak tahu bagaimana rasanya mencintai seorang namja.’ Ujar Hyuna dalam hati.

“jadi itu penyebabnya? Ckckck.. daebak, Hyun ah! kau baru saja putus dengan Wookie oppa dan sekarang PeDeKaTe sama Henry oppa.” Ucap Jinie iri. Ia kembali teringat dengan usahanya untuk mendekati Minho yang selalu gagal. Wajahnya terlihat muram.

“sebenarnya.. aku tidak merasa hebat dengan semua itu. Karna.. aku..” wajah Hyuna berubah jadi muram juga. Tapi ia segera menghembuskan napasnya dengan kuat dan kembali ceria. “huft.. tapi setidaknya aku lebih baik darimu. Kau mendekati seorang Choi Minho saja tidak bisa. Kalau dalam waktu 3 hari hubunganmu dan Minho oppa tidak ada kemajuan, lebih baik kau lupakan saja dia.”

“Hyuna, kok kamu ngomongnya begitu?” mata Jinie tampak berkaca-kaca. Soo in tersedak dari minumannya.

“jadi selama ini Jinie menyukai kakak sepupuku?” bisik Soo in di telinga Eun yoo. Dan anggukan kecil Eun yoo membuat Soo in berusaha keras untuk menahan tawanya.

“Jinie~ya, kenapa kau sangat cengeng? Hah?” Hyuna memutar bola matanya dengan kesal.

“kenapa kau sering memutar bola matamu jika sedang kesal? Emm.. mirip Key.” Gumam Eun yoo.

“panggil dia ‘Key oppa’! aratchi? kau juga, Eun yoo. Berani memutuskan Yesung oppa tapi tidak berani melupakannya.” ledek Hyuna. Eun yoo menjitaknya keras.

“AUW! Appo, amma!” Hyuna meringis kesakitan. Dahinya memerah. Hyuna akhir-akhir ini mulai sering memanggil Eun yoo dengan sebutan ‘amma’ karna terkadang sifat Eun yoo bisa berubah jadi keibuan. Maksud keibuan adalah cerewet, galak, dan suka menuntut. *dijambak Okthe Dwiie Sartiqqa II xD

“yak! dan kau Soo in, kalau kau terlalu angkuh, mana ada namja yang menyukaimu?”

“mwo? Hei, kau kan juga angkuh!” Soo in mengerucutkan bibirnya.

“tapi aku tidak seangkuh dirimu!” Hyuna tersenyum sinis pada Soo in. Eun yoo menyikut tangan Jinie dan Soo in. lalu mereka bertiga kompak melepas rol rambut mereka dan melemparnya ke arah Hyuna yang sedang sibuk mengepang rambutnya.

“HENTIKAAAN…!!! Awas y kalian!” Hyuna berteriak sambil tertawa mengejar ketiga temannya. TING-TONG! Bel pintu dorm berbunyi nyaring. Mereka terdiam sejenak lalu saling menyuruh membuka pintu. Jinie mengusulkan untuk bermain ‘hom-pim-pah’ dan yang kalah harus membuka pintu.

“kekanakan sekali!” cibir Hyuna. dan lagi-lagi membuat mata Jinie berkaca-kaca. tapi karna Eun yoo dan Soo in setuju, Hyuna terpaksa ikut serta.

“HOM-PIM-PAH!” ternyata yang kalah adalah Hyuna. dengan malas, ia beranjak membuka pintu.

“Wookie oppa.”

“ne, Hyuna. ini kue buatanku sendiri. kau ingat janjiku malam itu kan?” Ryeowook menyerahkan sebuah tempat kue pada Hyuna. #readers masih inget gak bag. wookie & hyuna sblum putus d part 1? wookie pernah janji mau ganti kue hyuna yg dy jatohin x’)

“oh, ne, oppa. Gomawo.” Hyuna tersenyum. Ryeowook berjalan menjauh. Namun ketika Hyuna hendak menutup pintu, Ryeowook  berbalik lagi.

“wae, oppa?” tanya Hyuna tak jadi menutup pintu.

“ehm.. rambutmu.. akan terlihat lebih bagus jika diurai saja.” ucap Ryeowook gugup.

“jinja? baiklah. Gomawo, oppa.” Hyuna membuka kepangan rambutnya. Ryeowook tersenyum dan berbalik pergi. ‘ayolah. Panggil aku lagi. jebal. Aku hanya ingin melihatmu lagi, Hyun ah!’ ujar Ryeowook dalam hati.

“Wookie oppa!” seru Hyuna. ia berlari menghampiri Ryeowook.

“ne?” mata Ryeowook tampak berbinar.

“mianhe… a… aku…”

“aku sudah memaafkanmu.”

“jinja? eung.. kalau ada waktu luang, oppa mau mengajariku memasak kan?” tanya Hyuna penuh harap.

“ne. pasti!” jawab Ryeowook senang.

“sekali lagi, gomawo, oppa.” Hyuna kembali ke dorm-nya. Dan ia terkejut melihat di balik pintu Soo in, Eun yoo, dan Jinie menunduk berjejer mengintipnya sejak tadi. ia mendengus kesal. Tapi mereka hanya tertawa pelan. Lalu perhatiannya teralih pada Yunyun yang sedang melamun. Ia memberi kode pada mereka untuk mengagetkan Yunyun. BRAKK! 4 yeoja itu menggebrak meja makan secara bersamaan.

“ANDWAE! Aku tidak akan membiarkan Hyuna mendekati koko Henly!” seru Yunyun begitu tersadar dari lamunannya. Kini semua mata menatapnya kaget.

“wae?” tanya Hyuna dan Soo in bersamaan.

“karna… karna…” Yunyun memutar otaknya. Ia sendiri bingung harus menjawab apa. Kalau ia berkata jujur bahwa ia ingin membalas Henry yang sudah berusaha menjauhkannya dengan Donghae, ia takut mereka akan menertawakannya.

“aiiish.. pokoknya ANDWAE!” Yunyun segera beranjak memakai sepatunya. Hyuna dan Soo in saling melempar tatapan penasaran. Jinie hanya mengangkat kedua bahunya.

“tapi sayagnya kau terlambat, Yunyun. Terhitung sejak tadi malam, Henry oppa sudah menjadi namjachingu ku.” Hyuna tersenyum puas lalu menenggak habis susu coklatnya. Tangannya mengusap bibir Jinie yang belepotan mesis roti panggangnya.

“MWO?” pekik Yunyun. Matanya membelalak ke arah Hyuna.

“oh y, kuingatkan lagi, nanti sepulang sekolah kita harus langsung pergi ke ruang musik untuk latihan. Tidak ada alasan untuk telat apalagi sampai tidak datang. Aratchi?” ucap Hyuna sambil melihat ke lembar jadwal kegiatan mereka di dinding dan mengikat tali sepatunya. Ketiga temannya mengangguk kecuali Soo in.

“tapi siang ini aku harus pergi…”

“membeli parfum baru?” cela Hyuna. ia memang sudah hapal dengan hoby Soo in yang satu itu. Setiap seminggu sekali Soo in akan membeli parfum jenis baru yang tidak ia miliki. Laci-laci meja riasnya sampai penuh sesak oleh parfum-parfum koleksinya yang bermerk dan tidak berharga murah. Hyuna bahkan menjulukinya ‘parfum girl’.

“hehee.. tuh kamu tahu!” Soo in terkekeh sambil memakai tasnya. Tanpa sengaja, tangannya menyenggol tangan Eun yoo yang memegang gelas susu hingga mengotori seragam Eun yoo dengan noda coklat.

“yak! Soo in! kau benar-benar ceroboh! Lihat ini! baju sekolahku jadi kotor kan! Huuh..” gerutu Eun yoo sambil berlalu ke kamarnya.

“mianhe.” Seru Soo in tanpa merasa bersalah. Hyuna mendengus kesal.

“baiklah. Tapi kau tidak boleh telat lebih dari 30 menit.”

“Hyun ah! gomawo. Kau memang sahabat terbaikku yang paliiing pengertian.” Soo in mengecup pipi Hyuna. membuat Hyuna jijik untuk beberapa saat dan mengusap pipinya dengan kasar.

“mwo? Hyun ah! kau tidak adil. Kenapa hanya Soo in yang boleh telat?” protes Jinie. Soo in mehrong (memeletkan lidahnya) pada Jinie. Lalu disusul Eun yoo yang masih menggerutu. ia terpaksa mengenakan jaket tipis pemberian Yesung oppa dulu untuk menutupi noda di seragamnya. Yunyun berpikir keras untuk mencari cara memisahkan Hyuna dengan kakaknya. Sementara Hyuna hanya diam menutup kedua telinganya dengan headset. Mendengarkan suara merdu Key di lagu Replay membuat mood-nya sedikit lebih baik daripada mendengarkan ocehan-ocehan Soo in yang sedang membela diri di depan Eun yoo dan Jinie. Suasana itu bertahan lama hingga mobil Honda Jaz bersupir yang mengantar mereka sampai ke sekolah. Mereka baru terdiam saat sampai di ruang loker khusus yeoja. Sepucuk surat ber-amplop merah menghiasi pintu loker Eun yoo.

“surat berdarah lagi?” tanya Jinie. Eun yoo terdiam. Yunyun mengambil surat itu.

“sebaiknya tidak usah dibaca.” Gumam Eun yoo pelan.

“bukankah hampir setiap hari kau mendapat surat berdarah ini? siapa sih pengirimnya?” tanya Soo in penasaran. Eun yoo menggeleng.

“Pengecut! Cuma berani meneror lewat surat.” Ujar Yunyun marah. Hyuna memungut surat yang baru saja dilempar Yunyun ke tong sampah dan membacanya.

“sepertinya aku tahu siapa yang kau sebut pengecut.” Hyuna menunjuk ke arah 3 loker di hadapan mereka yang bertuliskan 3 nama: Choi Ha Rin, Kang Hara, dan Uhm Ki Joon.

“apa maksudmu mereka bertiga?” tanya Yunyun sambil menyipitkan matanya. Hyuna menggeleng.

“anhi. Bukan mereka bertiga. Tapi ada diantara mereka bertiga.”

.=> part 4 end <=.

AYOOO RCL!!! Jangan jd SILENT READERS donk! Udah baca, msk gak mau luangin sedikit waktunya u/ like & coment sih! Author sngat mngharapkan kritik & saran dr readers setia lho! Klu jempol & comentnya dkit, author kan jd mles bwt nerusin nulis nie ff.. Apa readers gak penasaran ma crita d next part?

Bagaimana kisah Hyuna dkk selanjutnya?

Apakah Yunyun akan terus menunggu Donghae?

Sampai kapan Soo in memendam perasaannya?

Apakah Eun yoo akan menemukan cintanya yang baru?

Sampai kapan Hyuna mengikuti ucapan Sooman?

Apakah Jinie akan terus mengejar cintanya?

Dan siapakah pengirim surat berdarah yang sebenarnya?

Nantikan part selanjutnya y..^^~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s